Menginspirasi dan Berbudaya

  • Sosial

    aksi giat 1000 masker dilakukan Karangtaruna Desa Giripurwo bersama Pemerintah Desa Giripurwo dibantu relawan Jalasena,komunitas Nyawij

  • Budaya

    masyarakat Padukuhan Karang,Desa Girikarto,Kecamatan Panggang memiliki tradisi upacara bubuh-bubuh atau tolak bala

  • Peristiwa

    Peristiwa Kebakaran Yang Menimpa Rumah Salah satu Warga Semanu Gunungkidul

  • FlashNews

    Presiden Jokowi meminta para peneliti Indonesia untuk membuat vaksin korona. Hal tentu akan menjadi perhatian khusus mengingat pasien positif korona di Indonesia terus mengalami peningkatan.

  • Wisata

    Gunungkidul (Handayanipost.blogspot.com)-- Pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul akan segera membuka kembali obyek wisata. Namun pembukaan ini masih bersifat simulasi penerapan New Normal atau tatanan kebiasaan baru.

Link Banner
Link Banner
Link Banner
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Rasulan Jum'at Legi Desa Jepitu Di Masa Pandemi

GUNUNGKIDUL (Handayanipost)_Pandemi Covid 19 yang saat ini belum juga usai tidak membuat patah semangat bagi warga Kelurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo untuk tetap melestarikan budaya leluhur yaitu rasulan jumat legi.Jumat legi 24/07/2020

Bertempat di balai Kelurahan Jepitu perwakilan dari tokoh-tokoh dusun satu persatu datang dengan membawa ubo rampe beserta ingkung bentuk rasa syukur atas segala nikmat tuhan yang diberikan



Gunungan bentuk rasa syukur atas hasil panen juga dibuat walau ala kadarnya.

Sebelumnya acara bersih desa sudah dilakukan oleh warga Padukuhan Nglaban pada hari kamis kliwon,menurut cerita sesepuh memang sudah alur ceritanya seperti itu sebelum dilakukannya rasulan jumat legi harus diawali bersih desa dulu yang dilakukan oleh warga Padukuhan Nglaban pada hari Kamis kliwon 23/07/2020 kemaren

Rasulan tahun ini memang beda dengan tahun biasanya ,kali ini hanya dilakukan dengan sederhana namun tidak meninggalkan sakralnya acara ditambah bagi warga yang datang dengan mengenakan pakaian jawa komplit menambah suasana keharmonisan melestarikan budaya jawa


Lurah Jepitu Sudarta mengatakan acara rasulan jumat legi tahun ini tidak seperti tahun-tahun yang lalu,adapun pandemi covid 19 belum juga usai dari pihaknya bersama warga tidak meninggalkan budaya yang sudah ada sejak nenek moyang

"Bentuk rasa syukur kami kepada tuhan YME atas apa yang diberikan untuk warga kami serta harapan kami pandemi Covid 19 ini segera usai" ucap Lurah Jepitu

Doa bersama dilakukan oleh warga Jepitu dipimpin pemuka adat jepitu Sugito dengan harapan semua warga jepitu dijauhakan dari mara bahaya dan dilimpahkan rejeki serta hasil panen juga melimpah.Pihaknya juga berharap pandemi covid 19 segera berlalu

Setelah acara selesai ditutup dengan kembul bujono yaitu makan bersama mencerminkan kerukunan sesama warga dan tetap mengutamakan gotongroyong untuk kedepannya bertujuan untuk menjadi suatu wilayah yang maju dan mandiri tanpa ada selisih paham antar warga

Haris
Share:

Isu Santer Covid 19,Tradisi Apeman Desa Sodo Masih Diselenggarakan

PALIYAN (Wartahandayani.com)_Siapa yang tidak mengenal makanan yang satu ini Apem Contong.Kamis malam (19/03/2020) salah satu Budaya tradisional Jawa identik dengan serba serbi makanannya salah satunya Tradisi Apeman Desa Sodo,Kecamatan Paliyan

Warga masyarakat Desa Sodo,Kecamatan Paliyan selama dua hari disibukan dengan pembuatan Apem Conthong hampir disetiap rumah membuat makanan yang satu ini.Pada hari Kamis dan Jumat (kamis malam jumat kliwon) tradisi Apeman sudah ada sejak zaman nenek moyang sampai saat ini masih selalu dilestarikan

Tradisi Apeman sendiri bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan selalu melestarikan tradisi budaya jawa yang ada,tradisi Apeman selalu dilaksanakan disetiap malam jumat kliwon

Diarak terlebih dahulu dari tempat berkumpulnya warga lalu dibawa ke Aula Balai Desa Sodo dengan diawali upacara Kirab Apem yang selanjutnyan seserahan Gunungan Apem kepada Kepala Desa Sodo Sunaryo  dan dilanjutkan berdoa bersama

Tradisi Apeman sendiri tidak bisa lepas dari Budaya warga masyarakat untuk selalu Guyubrukun antar warga terbukti dengan diadakannya Sedekah Apem Conthong ini,warga masyarakat tumpah ruah jadi satu di balai Desa Sodo untuk berdoa bersama bentuk rasa syukur atas nikmat dan hasil panen yang melimpah

"Adapun berita tentang pengurangan kegiatan dengan adanya Covid-19 namun kegiatan ini masih berjalan seperti biasanya,guna menjaga dan melestarikan Budaya Tradisi Apeman" kata Sunaryo

Harapan saya kedepannya Tradisi Apeman ini akan selalu dilestarikan,karena tradisi ini sudah turun temurun dari nenek moyang.Dimana khususnya warga masyarakat Desa Sodo tidak bisa lepas dengan tradisi ini"pungkasnya

Neli
Share:

Menggali Sejarah Dan Mitos Tentang Petilasan Nyai Melik, Sumber Pancuran Dan Petilasan Wali Teleng

RONGKOP (Wartahandayani.com)_Gunungkidul kaya akan lokasi wisata yang tidak diragukan lagi begitu juga Kabupaten Gunungkidul tidak bisa lepas dari sejarah yang ada hampir dibeberapa wilayah yang tersebat di Kabupaten Gunungkidul banyak meninggalkan cerita sejarahnya salah satunya .Rabu (18/03/2020) diwilayah Padukuhan Pucanganom C,Desa Pucanganom,Kecamatan Rongkop lokasi berada di satu wilayah terdapat tiga petilasan yang banyak mengandung cerita para leluhur

Lokasi pertama yaitu Petilasan Sumber Pancuran,lokasi tersebut konon ceritanya dipercaya masyarakat sekitar tempat sholatnya Sunan Kalijaga karena didapati didekat pancuran ada batu latar yang membekas seperti lekukan-lekukan orang sholat,mulai dari bekas kepala,tangan dan juga kaki


Saat ini tempat tersebut sering dikunjungi orang-orang dari luar daerah yang mencari sejarah juga untuk sekedar mengambil air yang keluar dari sumber pancuran,oleh warga setempat sumber tersebut dibikin seperti pancuran menggunakan bilah bambu yang dipasang didekat sumber guna mempermudah orang-orang untuk mengambil airnya,lokasi tidak jauh dari tempat sholatnya Sunan Kalijaga


Ada cerita aneh tersendiri mengenai Sumber Pancuran tersebut yaitu disaat musim penghujan air yang keluar dari sumber hanya sedikit tetapi sebaliknya disaat musim kemarau justru mengalir deras.Airnya pun dipercaya masyarakat bisa menyembuhkan penyakit ,maka tidak heran banyak orang-orang yang datang untuk minum air sumber pancuran dan mengisi botol-botol lalu dibawa pulang.Sampai saat ini keaslian tempat tersebut masih dijaga kesakralannya oleh warga setempat

Lokasi kedua tidak jauh dari lokasi pertama hanya berjarak sekitar 500 meter terdapat Petilasan Nyai Melik (atau sering disebut Watu Dukun) karena dari keanehannya.Cerita dari Watu Dukun sendiri konon dulukala tidak mau dipindahkan,menurut cerita Juru kunci Ketiga Petilasan tersebut salah satunya Petilasan Nyai Melik (Watu Dukun)



Ada cerita dulu batu tersebut berada ditengah-tengah lahan pertanian warga dan pada saat itu karena posisi berada dilahan persawahan menganggu petani untuk di tanami padi,pemilik lahan berniat memindahkan batu tersebut ke pinggir lahan namun batu tersebut setelah ditinggal pulang pemilik lahan kembali lagi ke posisi semula,sampai dilakukan beberapa kali alhasil setiap dipindah pasti esok harinya kembali lagi keposisi semula

Setelah itu warga menjadi heran dengan batu tesebut,setelah adanya kejadian tersebut sesepuh masyarakat mengadakan ritual pemindahan batu tesebut agar tidak menganggu petani yang akan mengarap lahan tersebut.setelah dibikinkan tempat yang dibangun menggunakan semen berukuran 1 meter persegi batu tersebut sampai saat ini tidak pindah keposisi semula

Mitosnya Batu Dukun (Nyai Melik) barang siapa bisa menganggkat batu tersebut berarti keinginannya bakal terkabul,dan tidak sedikit yang mencoba namun hampir semuanya tidak bisa.Hanya niatan tulus batu tersebut bisa terangkat

Cerita Nyai Melik (Watu Dukun) sudah sampai keluar jawa karena menurut informasi masyarakat dan juru kunci memang banyak yang datang untuk membuktikan mitos tersebut,ada yang berhasil dan banyak juga yang gagal mengangkat batu tersebut

"Sampai saat ini lokasi tersebut sering didatangi orang-orang yang memiliki tujuan khusus dan mencoba mengangkat batu tersebut"

Lokasi Ketiga berada satu desa namun beda Padukuha ,Petiasan Wali Teleng berada di Padukuhan Bungmanis,Desa Pucanganom, Kecamatan Rongkop.Konon petilasan tersebut masih ada ikatannya dengan Petilasan Sumber Pancuran dan Petilasan Nyai Melik

Petilasan Wali Teleng menurut cerita dulunya lokasi tersebut ada bekas telapak kaki Seorang Wali yang saat ini masih menggeluarkan air,mitosnya jika air di Petilasan Wali Teleng masih keluar berati di Petilasan Sumber Pancuran juga masih mengeluarkan air.Tetapi sebaliknya jika Petilasan Wali Teleng tidak mengeluarkan air berati di Petilasan Sumber Pancuran juga tidak mengeluarkan air juga



Disetiap hari tertentu pasti ketiga lokasi tersebut sering diadakan tradisi masyarakat seperti Nyadran,dan biasanya diadakan sehabis panen

Ketiga petiasan tersebut dijaga oleh satu Juru Kunci yaitu Mbah Sutiyo (yang dituakan di Desa Pucanganom) pihak kami Wartahandayani.com berkesempatan untuk sedikit banyak mengulas sejarah tentang ketiga Petilasan tersebut ,dan dengan senag hari Mbah Sutiyo menceritakan tentang petilasan tersebut

"Saat ini saya dituakan untuk menjaga tempat-tempat tersebut mulai dari Petilasan Sumber Pancuran,Petilasan Nyai Melik, Dan Petilasan Wali Teleng" terang Sutiyo

Apa yang ditinggalkan para leluhur saat ini harus kita jaga dan selalu kita lestarikan karena bentuk rasa terimakasih kita kepada para leluhur untuk memberikan tanda jasa atas apa yang ditinghalkan dibumi ini khususnya di Gunungkidul "imbuhnya

Semoga regenerasi saat ini mau melestarikan dan menjaga tempat-tempat seperti ini,karena di Kabupaten Gunungkidul sendiri tidak sedikit tempat-tempat seperti Petilasan-Petilasan dengan cerita masing-masing " pungkasnya

Neli
Share:

Napak Tilas Petilasan Gendong Kyai Semangkulan


GIRISUBO,(Wartahandayani.com) - Gunungkidul menyimpan banyak cerita rakyat yang turun temurun dijaga oleh masyarakat setempat salah satunya adalah Petilasan Gedong Kyai Semangkulan yang berada di Dusun Sumur, Desa Nglindur, Kecamatan Girisubo.

Suryono Juru Kunci ke 7 menceritakan bahwa dulu Sunan Kali Jaga singgah di Dusun Sumur ini dan menancapkan tongkatnya disini sambil meminta api .

Masyarakat percaya bahwa yang tertancap disini adalah tongkat kayu milik Sunan Kali Jaga dulu kala sehingga tempat ini di sakralkan dan setiap waktu tertentu dibuat acara syukuran.

"Semangkulan sendiri adalah artinya tongkat kayu , setiap akan musim tanam dan panen diselenggarakan genduri , oleh dua kampung (dusun)." imbuh Suryono.

"Generasi penerus harus tau cerita cerita seperti ini , agar kedepan tidak ada yang terlupakan dan terhapus dari sejarah semua harus menjaga kearifan lokal ini ." pungkas suryono.(Hari)
Share:

Tradisi Orang Jawa Khususnya Para Petani "WIWITAN"

GUNUNGKIDUL (Wartahandayani.com)_Tradisi wiwitan merupakan ritual tradisional Hindu Jawa yang di lakukan para petani untuk memulai masa panen & memulai masa menanam padi. Tradisi ini merupakan persembahan dan wujud rasa syukur kepada Bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri sebagai dewi kemakmuran & kesuburan.

Wiwitan berasal dr kata ” Wiwit” yang berarti ” mulai” jadi tradisi ini adalah ritual memulai menanam padi dan mulai memanen padi.

Dalam upacara Wiwitan ini berbagai macam sesaji/ sajen di persiapkan. Sesaji yang biasa di haturkan diantaranya berupa Nasi tumpeng, sambal goreng, serkondeng, gereh pethek, thontho, kacang gleyor santan, dan pithik ingkung, selain itu juga ada cok bakal, kembang setaman dan air kendhi.

Setelah semua persembahan siap lalu di bawa ke sawah, dengan di pimpin tokoh adat setempat para petani berkumpul dan berdoa khusuk untuk melaksanakan ritual wiwitan.

Tradisi Wiwitan pada dasarnya adalah wujud rasa syukur kepada Dewi Sri yang telah memberikan hasil panen yang melimpah serta sebagai pengharapan di mulai masa tanam padi agar padi yang di tanam tumbuh subur dan terbebas dari segala macam hama sehingga tanaman selamat sampai masa panen nanti.

Namun seiring berjalannya zaman tradisi ini sudah mulai di tinggalkan masyarakat jawa sehingga tradisi ini pun mulai terancam punah oleh perkembangan zaman.

Semoga tradisi warisan leluhur ini tetap bisa lestari seiring berjalannya waktu terutama untuk masyarakat hindu jawa sehingga akan terwujud harmonisasi manusia dengan Alam Semesta
Share:

Sedekah Candi Krapyak Ki Demang Notoprojo Desa Giring

PALIYAN (Wartahandayani.com)_Situs yang masih selalu dijaga oleh warga sekitar disetiap tahun diadakan acara Kenduri Candi diseputaran situs.Jumat legi (06/03/2020) warga Padukuhan Candi,Desa Giring,Kecamatan Paliyan mengadakan ritual tradisi masyarakat Kenduri Candi

Kenduri Candi sendiri adalah acara dimana warga masyarakat satu padukuhan candi masing-masing membawa nasi Sarang dan dikumpulkan dilokasi candi yang mana nanti setelah kumpul jadi satu pihak juru kunci candi berdoa memohon berkah,kesehatan,kelancaran,panen yang melimpah juga kerukunan dimasyarakan

Sedekah candi diadakan setahun sekali disaat para petani tanamannya sudah mulai berbuah dan enak dikonsumsi,juga di hari tertentu seperti saat ini.Untuk sedekah candi diambil Jumat legi sedangkan untuk Babat Dalan Desa Giring Jumat Kliwon,ntah atas dasar apa diambil dihari tertentu,yang jelas intinya konon sudah dari dulu Jumat legi dan jumat kliwon menjadi hari yang sakral di Desa Giring

Turut hadir diacara tersebut Sesepuh keraton Yogyakarta Raden Mas Kukuh Hertriasning bersama rombongan,para tokoh adat masyarakat setempat,Kepala Desa Giring bersama jajarannya dan warga dua dusun turut hadir semuannya membawa masing-masing nasi sarang dari rumah

Acara dimulai dipimpin juru kunci candi Mbah Trimo memanjatkan doa bersama,dihadapan warga masyarakat agar warga masyarakat terhindar dari mara bahaya,lalu karena warga masyarakat sebagian besar petani dengan harapan hasil panennya melimpah

"Dengan ikhlas dan keyakianan masing-masing warga insyaallah denga selalu dijaga dan dilestarikan adat tradisi ini warga masyarakat sekitar khususnya akan selalu diberi kemudahan,dan juga hasil panen yang melimpah" kata Trimo

Raden Mas Kukuh Hertriasning juga sedikit menyampaikan rasa terimakasihnya sudah bisa ikut melestarikan Adat tradisi Kenduri Candi Ki Demang Notoprojo tersebut

"Saya bangga melihat arak-arakan warga masyarakat disini karena masih selalu nguri-uri Budaya salah satunya adat tradisi Kenduri Candi ,dengan membawa nasi sarang dari rumah masing-masing yang langsung dikumpulkan dilokasi candi" terang Raden Mas Kukuh Hertriasning

"Semoga dengan adanya acara ini,kita yang selalu menjaga apa yang sudah ditinggalkan oleh para leluhur,kita semua diberikan kemudahan dalam hal apapun.dan Gusti pangeran memberikan ridhonya untuk kita semua melalui kenduri candi ini" ungkapnya

"Alhamdulillah warga kami selalu menjaga apa yang sudah ditinggalakan oleh para leluhur seperti saat ini dengan diadakannya Sedekah candi ini" kata Kepala Desa Giring...

Tidak bisa dipungkiri desa kami banyak peninggalan-peninggalan para leluhur dibeberapa tempat salah satunya Candi Ki Demang Notoprojo ini,dan memang benar hari Jumat Legi dan Jumat Kliwon menjadi hari yang sakral di desa kami,banyak kisah juga cerita dari nenek moyang,yang saat ini menjadi kewajiban kita menjaga dan melestarikan apa yang sudah ditinggalkan"pungkasnya

Titik
Share:
Link Banner
Link Banner
Link Banner
Link Banner

Popular Posts